hilaaliyahhatta

Just another WordPress.com site

KEBUDAYAAN MINANGKABAU

1. Sistem religi dan kepercayaan

Masyarakat Minangkabau merupakan penganut agama islam ang taat.Seluruh kehidupan  masyarakatnya sangat dipengaruhi oleh sendi-sendi agama islam. Mereka boleh dikatakan tidak mengenal unsure-unsur kepercayaan lain,kecuali apa yang diajarkan oleh islam. Kalau ada seorang Minangkabau yang tidak menganut agama islam,maka hal itu adalah suatu keganjilan yang mengherankan walaupun kebanyakan dari orang Minangkabau mungkin menganut agama itu secara nominal saja tanpa melakukan ibadahnya.

Upacara-upacara keagamaannya adalah kegiatan ibadah yang berkaitan dengan shalat hari raya idul fitri,hari, raya kurban dan bulan ramadhan(puasa). Upacara-upacara lainnya adalah upacara tabuik, upacara khitan, upacara kekah(aqiqah), dan upacara khatam Al-Quran. Walaupun demikian, banyak juga yang percaya tentang adanya hal-hal yang tidak diajarkan oleh islam. Misalnya mereka percaya kepada hantu-hantu yang mendatangkan bencana dan penyakit kepada manusia. Untuk menolak hantu-hantu tersebut,orang akan datang kepada seorang dukun untuk meminta pertolongannya.

Agama dan adat masyarakat Minangkabau berhubungan erat, seperti dikatakan oleh orang Minangkabau. Dibeberapa tempat masih ada juga surau-surau yang bertindak sebagai sekolah agama dalam bentuk yang sama  dengan pesantren di Jawa. Pelajaran agama dilaksanakan dibawah pimpinan seorang tuanku atau syekh.Tokoh itu ada hanya mengajar membacan Al Quran tetapi sering juga memimpin aktivitas-aktivitas mistik(suluk). Dulu seorang syekh sangat berkuasa diantara murid-muridnya dan juga diantara penduduk desanya dan desa sekelilingnya. Dia dianggap sebagai seorang yang sakti. Keadaan ini juga telah mulai hilang dari Minangkabau sejak beberapa tahun yang lalu.

 

2. Bahasa

Masyarakat Minangkabau menggunakan bahasa yang disebut sebagai bahasa Minangkabau, sebuah bahasa yang berhubungan erat dengan bahasa melayu. Menurut penelitian ilmu bahasa, Bahasa Minangkabau boleh merupakan bahasa tersendiri, tetapi boleh juga dianggap sebagai sebuah dialek saja dari bahasa melayu. Kata-kata dalam bahasa Melayu umumnya dapat dicarikan kesamaannya dalam bahasa Minangkabau dengan cara mengubah bunyi-bunyi tertentu saja.Contohnya:jua(jual),taba(tebal),lapa(lapar),saba(sabar),takuik(takut),apui(hapus),alui(halus).Disamping itu banyak kata-kata yang sama betul antara bahasa Melayu dan Minangkabau.

Kalau orang mencoba mengadakan perbedaan diantara orang-orang Minangkabau,maka perbedaannya itu biasanya dihubungkan dengan perbedaan dialek yang ada dalam bahasa Minangkabau.Secara garis besar,daerah pemakaian bahasa Minangkabau dibedakan dalam dua daerah besar,yaitu daerah (a) dan daerah(o),berdasarkan keadaan yang ada pada contoh berikut ini:

 

 

 

 

Bahasa Melayu                  Dialek(a)                    Dialek(o)

Penat                                     panek                          ponek

Apa                                           a                                 ano

Mana                                       ma                             mano

lepas                                      lapeh                           lopeh

Disamping itu ada perbedaan yang bersifat dialek lainnya dan ada yang dapat dianggap  sebagai bahasa umum.

 

3. Sistem Kekerabatan

Garis keturunan masyarakat Minangkabau yang dianut adalah garis keturunan matrilineal,yaitu seseorang akan masuk keluarga ibunya,bukan keluarga ayahnya.Seorang ayah berada di luar keluarga  anak dan istrinya.Keluarga batih pada masyarakat Minangkabau merupakan kesatuan yang mutlak.Kesaruan keluarga dalam masyarakt Minangkabau terdiri atas tiga macam kesatuan kekerabatan,yaitu paruik,kampuang,dan suku.Kepentingan suatu keluarga diurus oleh laki-laki dewasa dari keluarga tersebut yang bertindak sebagai ninik mamak.Suku dalam sistem kekerabatan Minangkabau menyerupai suatu klan matrilineal, dan jodoh harus dipilih dari luar suku.

Dalam adat, diharapkan adanya perkawinan dengan anak perempuan mamaknya atau anak perempuan saudara perempuan ayahnya.Perkawinan dengan anak mamak dapat diperkirakan sebagai pola yang lebih asli karena kesamaan istilah yang digunakan untuk memanggil dan menyebut isteri mamak dan ibu istri.Seorang isteri mamak akan dipanggil oleh seseorang dengan mintuwo(mertua),walaupun ia tidak mengawini anak perempuannya.

Masyarakat Minangkabau tidak mengenal mas kawin,tetapi mengenal uang jemputan, yaitu pemberian sejumla uang dan pemberian sejumlah uang dan barang kepada keluarga mempelai laki-laki.Sesudah upacara perkawinan dirumah pengantin perempuan, suami tinggal di rumah isterinya.Bagi masyarakat minangkabau tidak ada larangan mempunyai lebih dari satu istri, terutama bagi seseorang yang memiliki kedudukan sosial tertentu.

 

4. Sistem Kesenian

Dalam sistem kesenian, membahas mengenai rumah adat,pakaian adat,seni tari dan alat musik tradisional.

1).Rumah Adat

Rumah adat Minangkabau didirikan diatas panggung dan bentuknya memanjang.Rumah adat disebut rumah gadang yang kadang-kadang mempunyai anjuang,yaitu tempat yang ditinggikan dari bagian lain.Anjuang merupakan tempat terhormat untuk menerima tamu atau pesta.

2).Pakaian Adat

Umumnya,Para wanita memakai baju kurung dan berkain sarung serta berkerudung sedangkan pria memakai celana panjang kain sutra dililit sarung dan kemeja lengan panjang yang bagian lehernya tanpa kerah.

Pengantin pria memakai roki,yaitu seperangkat pakaian yang terdiri dari celana sebatas lutut dan sarungnya bersuji emas.Kemeja ditutup dengan rompi dan diluarnya baju jas bersulam emas tanpa kancing.Pengantin pria juga memakai pending emas dengan keris tersisip dibagian depan.Penutup kepalanya memakai saluak atau deta(destar).Sedangkan pengantin wanita memakai baju kurung bersulam emas,bersarung suji,kain tokaon untuk alas kalung susun,memakai anting-anting, dan gelang pada kedua lengan.Hiasan kepalanya terdiri atas kembang goyang atau sunting tinggi.

3).Seni Tari dan Alat Musik Tradisinal

Seni tari Minangkabau umumnya menggambarkan suasana kehidupan masyarakt

yang penuh kegembiraan,seperti tari Payung, tari yang bersifat magis, misalnya menginjak pecahan kaca sambil menarikan tari piring.

Alat musik Minangkabau adalah telempong pacik,sejenis gong kecil tunggal dengan benjolan kecil ditengahnya. Alat ini biasanya dibawa dan dimainkan sambil berjalan sebagai pelengkap arak-arakan atau sewaktu upacara.Alat musik tiup khas Minangkabau dalah saluang, yaitu seruling yang terbuat dari tabung bambu dengan kedua ujungnya terbuka.Rebana atau kendang melayu sering juga dipergunakan untuk mengiringi tarian atau nyanyian.Alat musik yang mendapat pengaruh islam ini banyak digunakan juga didaerah-daerah lain.

 

5. Mata pencaharian

Masyarakat Minangkabau kebanyakan bekerja sebagai petani,disamping itu penduduk yang tinggal di pinggir laut atau danau juga dapat hidup dari hasil penangkapan ikan.Akan tetapi karena berbagai hal banyak orang Minangkabau meninggalkan sektor pertanian dan lari ke sektor perdagangan. Mereka yang menjadi pedagangn biasanya memilih antara tiga lapangan kerja yaitu: tekstil,kelontong atau rumah makan.

Selain itu,ada juga yang hidup dari kerajinan tangan . Di antaranya yang telah melampaui batas kedaerahan ialah kerajinan perak bakar dari Kota Gadang dan pembuatan kain songket dari Silungkang. Kerajinan tangan lainnya hanya dikenal dalam lingkungan daerah Minangkabau saja. Akan tetapi, kerajinan tangan  yang ada itu kelihatan seakan-akan menghadapi masa suram. Seperti itu kerajinan songket dari Silungkang yang mulai hilang atau tidak semaju perusahaan songket di Malaysia, karena itu sekarang semata-mata merupakan  atraksi bagi para turis saja. Berbeda halnya di Malaysia, di mana orang masih memakai songket sebagaimana batik digunakan oleh kebanyakan wanita Indonesia.

                Industri kecil tidak begitu berkembang dan yang kelihatan  industri tekstil kecil yang berpusat pada  dua daerah yaitu Silungkang dan Kubang.

                Kehidupan perdagangan di minangkabau hanya sedikit saja yang ada di tangan orang-orang keturunan asing. Semua sektor pedagangan boleh dikatakan telah terpegang di tangan orang Minangkabau sendiri. Perdagangan yang dikuasai  keturunan China boleh dikatakan sangat terbatas kepada pertukangan tertentu, seperti tukang cuci kemeja.

 

6. Sistem Politik

                Kesatuan teritorial  yang paling penting di Minangkabau ialah nagari. Nagari dipimpin oleh seorang ketua adat  yang disebut penghulu andiko. Tiap nagari biasanya terdiri atas empat suku. Setiap suku dikepalai  oleh seorang penghulu suku. Bersama-sama dengan empat penghulu suku, penghulu andiko membentuk  semacam pemerintahan tertinggi di dalam nagarinya yang disebut pucuk nagari.

                Nagari merupakan salah satu persatuan hukum yang bersifat teritorial dan genealogis. Disebut teritorial karena memiliki daerah sendiri, mempunyai kalangan (semacam lapangan tempat orang berkumpul) dan tepian (tepi sungai tempat perahu merapat.. Disebut genealogis karena  nagari dihuni oleh orang-orang yang memiliki pertalian darah tertentu (paruik, suku).  Disebut persekutuan hukum karena nagari memiliki balai adat dan pemerintahan.

                Dalam melaksanakan kegiatannya, penghulu andiko dibantu oleh penghulu suku, juga dibantu oleh seorang pejabat keagamaan yang disebut manti dan pejabat keamanan yang disebut dubalang.

Dalam masyarakat Minangkabau, kedudukan golongan bangsawan cukup tinggi. Misalnya, di Pariaman, seorang bangsawan tidak perlu memberi belanja istrinya, tidak perlu menerima uang jemputan, dan dapat meningkatkan derajat sosial keluarga istrinya. Seorang wanita golongan bangsawan dilarang menikah dengan golongan biasa, apalagi dari golongan paling bawah. Menurut konsepsi orang Minangkabau, perbebaan lapisan sosial dinyatakan dengan istilah:

v Urang asa, yaitu keluarga yang mula-mula sekali datang(orang asal) dan dianggap bangsawan serta kedudukannya paling tinggi.   

v Kemenakan tali paruik, yaitu keturunan langsung urang asa.

v Kemenakan tali budi, yaitu orang-orang yang datang ke wilayah orang asa.

v Kemenakan tali ameh, yaitu pendatang-pendatang baru yang mencari hubungan dengan keluarga urang asa melalui perkawinan , namun tidak bergantung  pada keluarga urang asa.

v Kemenakan bawah luntuik,  yaitu orang yang hidupnya menghamba pada keluarga urang asa.

 

7. Pendidikan

                Sampai sekian jauh, pembangunan yang berhasil dilaksanakan adalah pembangunan pendidikan. Hal ini dapat dilihat dengan jumlah sekolah-sekolah yang telah didirikan dan jumlah lulusannya. Walaupun demikian, kemajuan ini juga  mempunyai segi-seginya yang negatif, yaitu pengangguran  orang yang terpelajar. Hal ini disebabkan oleh tiga hal. Pertama, mereka berusaha untuk bekerja dengan makan gaji, dan kesempatan ini boleh dikatakan terbatas sekali. Kedua, mereka tidak mau kembali ke desa dan kembali bekerja sebagai petani. Mereka juga merasa bahwa dengan pertanian, mereka tidak akan dapat hidup sebagaiman yang dikehendaki. Hasil yang diperoleh tidak begitu mencukupi. Ketiga, halangan utama  adalah tidak adanya modal  untuk mulai berusaha. Kebanyakan mereka yang telah mendapat pendidikan tadi, tidak berani dan rela mengunyah pahit getirnya masa permulaan berusaha.

 

 

 

 

 

 

 

KEBUDAYAAN DAYAK

 

1. Sistem religi dan kepercayaan

Berdasarkan religinya,penduduk propinsi kalimantan tengah dapat dibagi menjadi empat golongan yaitu: (1) Golongan yang menganut agama islam, (2) Golongan yang menganut agama pribumi, (3) Golongan yang menganut agama kristen dan (4) Golongan yang menganut agama katolik.Agama asli dari penduduk pribumi adalah agama Kaharingan.Sebutan Kaharingan diambil dari istilah Danum Kaharingan yang berarti air kehidupan. Dalam dongeng-dongeng suci, air itu dipercaya dapat memberi kehidupan pada manusia.

Umat Kaharingan percaya bahwa alam sekitar hidupnya itu penuh dengan makhluk-makhluk halus dan roh-roh(ganan dalam bahasa Ngaju),yang menempati tiang rumah,batu-batu besar,pohon-pohon besar,hutan belukar, air. Menurut tempat tinggalnya, ganan mempunyai sebutan sendiri-sendiri yang dibagi menjadi dua golongan yaitu:

  1. Golongan roh-roh baik(Sangiang,nayu-nayu dalam bahasa Ngaju)
  2. Golongan roh-roh jahat(Taloh,Kambe dalam bahasa Ngaju)

Disamping Ganan, ada segolongan makhluk halus yang mempunyai suatu peranan yang sangat penting dalm kehidupan orang Dayak yaitu roh nenek moyang(Liau dalam bahasa Ngaju). Menurut kepercayaan orang Dayak, jiwa(hambaruan) orang yang mati itu meninggalkan tubuh dan menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia sebagai Liau. Lama kelamaan Liau itu akan kembali kepada dewa tertinggi yang disebut Ranying. Tetapi prosesnya memakan waktu yang sangat lama serta melalui bermacam-macam rintangan dan ujian untuk akhirnya masuk kedunia roh yang bernama Lewu Liau dan menghadap Ranying. Dalam syair-syair suci orang Ngaju,dunia roh itu disebut ”negeri kaya raya” yang berpasir emas, berbukit intan, dan berkerikil manik, tempat dimana tidak ada kemalangan, kesusahan dan kelelahan.

Upacara-upacara yang terdapat pada masyarakat dayak diuraikan sebagai berikut:

  1. Upacara keagamaan terhadap roh nenek moyang dan makhluk halus                          yang menempati alam sekelilingnya.
  2. Upacara menyambut kelahiran anak.
  3. Upacara memandikan bayi untuk pertama kali.
  4. Upacara memotong rambut bayi.
  5. Upacara penguburan mayat.
  6. Upacara pembakaran mayat.

Kalau orang Dayak meniggal, mayatnya dikubur dulu dalam sebuah peti mayat yang terbuat dari kayu berbentuk perahu lesung(Raung dalam bahasa Ngaju). Kuburan ini dianggap sebagai kuburan sementara sebelum mayat dibakar dalam suatu upacara terpenting bagi orang dayak yaitu upacara pembakaran mayat secara besar-besaran  yang pada orang Ngaju disebut tiwah( Daro Ot Danum ; Ijambe Ma’anyan). Pada upacara ini, tulang belulang semua orang sekerabat yang telah meninggal, digali kemudian dipindahkan kesuatu tempat pemakaman yang tetap, sebuah bangunan berukiran indah yang disebut Sandung. Pada orang Ma’anyan tulang belulang tadi dibakar kemudian ditempatkan pada tempat pemakaman berupa bangunan(tambak).

Upacara ini biasanya dilakukan oleh keluarga-keluarga luas secara besar-besaran dan berlangsung sampai dua-tiga minggu lamanya. Pengunjung dari berbagai desa datang untuk merayakan upacara pembakaran mayat(tiwah)  upacara tiwah membutuhkan biaa yang cukup besar. Biaya tersebut meliputi biaya makanan dan minuman untuk para tamu, biaya para pelaku upacara(para balian), dan biaya alt-alat musik untuk mempertunjukkan tarian suci yang menarik.

Selain itu, orang Dayak juga mengenal upacara-upacara keagmaan yang berhubungan dengan pertanian di ladang dengan maksud untuk menambah kesuburan tanah, untuk menolak hama-hama, dan untuk mengusahakan hasil bumi yang berlimpah. Dalam upacara-upacara serupa itu dipimpin oleh seorang balian.

 

2.Bahasa

Bahasa yang dipergunakan oleh suku-suku bangsa Ngaju, Ot-Danum dan Ma’anyan adalah bahasa yang oleh Hudson disebut Keluarga bahasa Barito. Keluarga bahasa ini dipergunakan di Kalimantan tengah dan sebagian dari kalimantan Selatan, yaitu disuatu wilayah yang di bagian barat dibatasi oleh sungai Sampit(Mentaya), diutara oleh pegunungan Schwaner dan Műller, Sungai-sungai Busang, Murung dan Mahakam, di bagian selatan dan timur(tanpa menghiraukan bahasa-bahasa Melayu dan Bugis yang juga berda disitu.

Menurut klasifikasi Hudson, bahasa Ngaju termasuk dalam isolect(logat) Barito Barat Daya; Bahasa Ot-Danum dalam isolect Barito barat laut, dan bahasa Ma’anyan dalam isolect Barito tenggara . Diantara  ketiga bahasa tersebut, bahasa Ngaju telah lama menjadi lingua franca oang Dayak kalimantan Tengah walaupun pada akhir-akhir ini ada kecenderungan bahwa bahasa Indonesia akan menggantikannya. Peranan bahasa Ngaju menjadi penting dikalimantan tengah, berkat usaha para Zending Protestan dari Jerman yang telah memilih bahasi itu dalam penyebaran agama nasrani dan dalam menterjemahkan kitab injil kedalam bahasa pribumi.

 

  1. 3.    Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan orang Dayak berdasarkan prinsip ambilineal, yaitu menghitung hubungan kekerabatan untuk sebagian dalam masyarakat melalui laki-laki dan sebagian dalam masyarakat melalui perempuan.

Dahulu pada waktu didaerah kalimantan Tengah masih ada rumah panjang, kelompok kekerabatan didasarkan pada prinsip ambilineal kecil atau utrolokal dengan orientasi terhadap nenek moyang yang masih hidup, dua atau tiga generasi. Pada masa sekarang, kelompok kekerabatan keluarga luas utrolokal merupakan isi suatu rumah tangga. Rumah tangga ini juga berlaku sebagai kesatuan fisik, misalnya dalam sistem gotong royong dan sebagai kesatuan rohaniah dalam upacara agama Kaharingan. Setiap keluarga luas mempunyai pelindung.

Kewargaan dari suatu rumah tangga tidak statis karena tergantung pada tempat tinggal saat ia menikah. Perkawinan yang dianggap ideal pada orang Dayak adalah perkawinan antara dua orang Dayak adalah perkawinan antara dua orang bersaudara sepupu, yang kakek-kakeknya adalah saudara sekandung(part-paralel cosin). Orang Dayak tidak melarang gadis-gadis mereka menikah dengan laki-laki bangsa lain, asalkan saja laki-laki tersebut bersedia tunduk pada adat mereka dan bersedia terus berdiam didesa mereka.

 

4. Mata Pencaharian

Bercocok tanam di ladang adalah mata pencaharian orang Dayak. Mereka membuat ladang dengan cara menebang pohon-pohon di hutan. Batang serta daun-daun di biarkan mengering selama dua bulan kemudian dibakar. Pada musim hujan kira-kira bulan Oktober, mereka mulai menanam. Para laki-laki berbaris di muka sambil menusuk-nusuk tanah dengan tongkat tugalnya. Para wanitanya berbaris dibelakang sambil memasukkan beberapa butir padi ke dalam lubang yang telah

Selain padi, mereka juga menanam ubi kayu, ubi rambat, keladi, pisang dan lain-lain.Buah-buahan yang banyak ditanam di ladang ialah durian, cempedak, dan pinang.Setelah ladang dipanen beberapa kali, tanah mulai tandus. Sebelum mereka meninggalkan tanah tersebut mereka menanam pohon karet untuk dapat diambil hasinya kelak.

Selain bercocok tanam di ladang mereka juga berburu,mencari hasil hutan seperti mengumpulkan rotan, karet, dan damar. Pekerjaan tersebut dilakukan untuk menambah nafkah keluarga. Mereka menjual hasil hutan kepada tengkulak atau pedagang yang sengaja datang ke desa mereka. Kemudian para pedagang memawa hasil hutan tersebut ke kota-kota atau menjualnya di pasar. Kadang-kadang mereka menggunakan sistem barter. Para pedagang membawa gula, kopi atau keperluan rumah tangga lain untuk ditukarkan dengan hasil hutan.

Orang Dayak terkenal dengan seni menganyam kulit, rotan, tikar, keranjang-keranjang, dan topi.Produksi mereka diperdagangkan di pasar-pasar Kuala Kapuas, Banjarmasin, Sampit, dan kota-kota lain.

Pada masa sekarang produksi kain dari kulit kayu(ewah) untuk dipakai sendiri sudah mulai berkurang. Ewah telah digantikan kain impor yang masuk sampai kepedalaman. Orang Dayak sudah banyak yang berpakaian lengkap seperti orang Indonesia lainnya. Misalnya kaum laki-laki memakai hem dan celana, kaum wanita memakai kebaya dan sarung. Bahkan para pemudinya sudah banyak memakai potongan rok Eropa.

Orang Dayak banyak berhubungan dengan orang luar, seperti orang Melayu, Jawa, Bugis, Cina, Arab, dan Eropa. Beberapa pemuda Dayak yang telah   pendidikan, berusaha memajukan suku bangsanya dengan cara mendirikan organisasi Serikat Dayak, atau Koperasi Dayak.

 

 

5. Sistem Kesenian

Sistem kesenian Dayak meliputi tari-tarian :

a. Tari Gantar
Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.

Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.

b. Tari Kancet Papatai / Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari.

Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

c. Tari Kancet Ledo / Tari Gong
Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.

Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.

d. Tari Kancet Lasan
Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.

e.Tari Leleng
Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.

6. Sistem Politik

                Pemerintahan desa secara formal berada di tangan pembekal dan panghulu. Pembekal bertindak sebagai pemimpin administrative. Panghulu sebagai kepala adapt dalam desa. Syarat untuk menjadi pembekal adalah kemampuan menulis dan membaca huruf latin, mempunyai rumah, serta mempunyai pengaruh. Adapun syarat untuk menjadi panghulu adalah ahli dalam soal-soal adapt. Hal itu disebabkan  panghulu akan menjadi orang yang diminta bertindak dalam hal-hal memutuskan perkara-perkara hukum adapt, dan menjadi wakil desanya pada upacara-upacara adat yang diadakan di desa tetangga.

                Kedudukan pembekal dan panghulu sangat terpandang di desa. Mereka memperoleh jabatan  melalui pemilihan oleh warga desa. Dahulu kedua jabatan itu dirangkap oleh seorang kepala desa yang disebut patih. Akan tetapi, sejalan dengan perkembangan zamanyang mengakibatkan pekerjaan administratif semakin bertambah, akhirnya terjadi pemisahan.

                Selain pembekal dan panghulu, ada pula satu dewan yang terdiri atas orang tua-tua desa yang dianggap juga ahli dalam adapt. Mereka merupakan penasehat panghulu dalam soal adapt. Dewan ini disebut mantir.

                Menurut A.B. Hudson, hukum pidana RI telah berlaku pada orang Dayak untuk mendampingi hukum adat yang ada. Keduanya saling mengisi, tetapi terkadang terdapat perbedaan. Miasalnya, seorang penduduk, desa memasang perangkap rusa di hutan. Seorang laki-laki kemudian terkena perangkap tersebut hingga ia meninggal. Laki-laki itu merupakan anak tunggal dari seseorang yang sudah lanjut usianya. Anak laki-laki tersebut dihaapkan mencari makan untuk mereka. Menurut hokum pidana, sipemasang perangkap rusa tidak bersalah karena tidak ada unsure kejahatan. Namun, menurut hokum adapt orang Dayak, ia bersalah dan harus di-danda(pemberian ganti kerugian). Dendanya adalah orang tua si korban diberi nafkah oleh si pemasang perangkap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 22, 2012 by .

Navigation

%d bloggers like this: