hilaaliyahhatta

Just another WordPress.com site

KEBUDAYAAN BUGIS MAKASSAR

A. SISTEM RELIGI

   System norma dan aturan-aturan adatnya yang keramat dan sakral yang keseluruhannya disebut panngadderreng (panngadakkang). Sistem adat keramat dari orang bugis-nakassar terdiri atas 5 unsur pokok, yaitu:

1.Ade’(  ada’)

Ade  adalah bagian dari panggaderreng yang secara khusus terdiri dari:

a. Ade’ akkalabinengeng atau norma mengenai hal-hal ihwal perkawinan serata hubungan kekerabatan dan berwujud sebagai kaidah-kaidah perkawinan, kaidah-kaidah keturunan, aturan-aturan mengenai hak dan kewajiban warga rumah tangga, etika dalam hal berumah tangga dan sopan santun pergaulan antar kaum kerabat

b. Ade’ tana atau norma mengenai hal ihwal bernegara dan memerintah Negara dan berwujud sebagai hukum Negara, hukum antar Negara, serta etika dan pembinaan insan politik.

Pengawasan dan pembinaan ade’ dalam masyarakat orang Bugis biasanya dilaksanakan oleh beberapa pejabat adapt seperti : pakka tenniade’, puang ade’, pampawa ade’, dan  parewa ade’.

2. Bicara

Bicara adalah unsur yang mengenai semua aktivitet dan konsep-konsep yang bersangkut paut dengan pengadilan, maka kurang lebih sama dengan hukum acara, menentukan prosedurnya serta hak-hak dan kewajiban seorang yang mengajukan kasusnya di muka pengadilan atu mengajukan gugatan.

3. Rapang

Contoh, perumpamaan, kias, atau analogi. Rapang menjaga kepastian dan konstinuitet dari suatau keputusan hokum taktertulis dalam masa yang lampau sampai sekarang, dengan membuat analogi dari kasus dari masa lampau dengan yang sedang di garap sekarang.

4. Wari’

Melakukan klasifikasi dari segala benda, peristiwa, dan aktivitetnya dalam kehidupan masyarakat menurut kategorinya. Misalnya untuk memelihara tata susunan dan tata penempatan hal-hal dan dan benda-benda dalam kehidupan masyarakat; untuk emelihara jalur dan garis keturunan yang mewujudkan pelapisan social; untuk memlihara hubungan kekerabatan antara raja suatu Negara dengan raja dari Negara lain, sehingga dapat ditentukan mana yang muda dan mana yang tua dalam tata upacara kebesaran.

5. Sara’

Pranata dan hukum Islam dan yang melengkapkan keempat unsurnya menjadi lima.

      Dalam kasusastraan Pasengyang memuat amanat-amanat dari nenek moyang, ada contoh-contoh dari ungkapan-ungkapan yang diberikan kepada konsep siri’ seperti:

siri’ emmi rionrowang ri-lino artinya: hanya untuk siri’ sajalah kita tinggal di dunia. Arti siri sebagai hal yang memberi identitet social da martabat kepada seorang Bugis

mate ri siri’na artinya mati dalam siri’ atau mati untuk menegakkan martabat dalam diri,yang dianggap suatu hal yang terpuji dan terhormat

mate siri’  artinya mati siri’ atau orang yang sudah hilang martabat dirinya adalah seperti bangkai hidup. Kemudian akan melakukan jallo atau amuk sampai ia mati sendiri. Demikian orang Bugis-Makassar yang mate siri’ akan melakukan amuk atau jallo sampai ia mati sendiri. Jallo yang demikian disebut napaentegi siri’na, artinya, dia tegakkan kembali martabat dirinya. Kalau ia mati dalam jallo, maka ia disebut orowane engka sirina, artinya jantan yang memiliki martabat.

Waktu agama Islam masuk ke Sulawesi Selatan pada permulaan abad ke-17, maka ajaran tauhid dalam Islam, dapat mudah dipahami oleh penduduk yang percayakepada dewa yang tunggal dalam La Galigo.. demikian agama Islam dapat mudah diterima dan proses itu dipercepat denan kontak terus-menerus dengan pedagang-pedagang Melayu Islam yang sudah menetap di Makassar, maupun dengan kunjungan-kunjungan orang Bugis-Makassar ke negeri-negeri lain yang sudah beragama Islam.

Hukum Islam atau syari’ah diintegrasikan ke dalam pangngadereng dan menjadi sara’ sebagai suatu unsur pokok darinya dan kemudian menjiwai keseluruhannya. Unsur-unsur dari kepercayaan lama seperti pemujaan dan upacara bersaji kepada ruh nenek moyang atau attoriolong, pemeliharaan tempat keramat atau sakung, upacara turun ke sawah, upacara mendirikan dan meresmikan rumah dan sebagainya, semuanya dijiwai oleh konsep-konsep agama Islam.

Agama dari penduduk Sulawesi Selatan kira-kira 90% adalah Islam, sedang 10 % memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik. Umat Kristen atau Katolik biasanya pendatang dari Maluku, Minahasa, dan lain-lain atau dari orang Toraja. Mereka ini tinggal di kota-kota, terutama di Ujung Pandang.

Kegiatan-kegiatan dakwah Islam dilakukan oleh organisasi Islam yang amat aktif seperti Muhammadiyah, Darudda’wah wal Irsyad, partai-partai politik Islam, Ikatan Mesjid, dan mushalla dengan pusat Islamnya di Ujung Pandang. Kegiatan-kegiatan dari missi Katolik dan penyebar Islam lainnya juga ada di Sulawesi Selatan.

 

Adapun upacara adat yang sering dilakukan oleh masyarakat Bugis-Makassar antara lain:

v  Mappanre tasi (memberi makan laut)

v  Maccera’ tasi

 

 

B. BAHASA

            Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan etnik Bugis di Sulawesi Selatan, yang tersebar di kabupaten sebahagian Kabupaten Maros, sebahagian Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Pare-pare, Kabupaten Pinrang, sebahagian kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, Kabupaten Luwu, Kabupaten Sidenrengrappang, Kabupaten Soppeng,Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan Kabupaten Bantaeng. Masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara. Lontara adalah buku-auku kunoyang dibuat dari daun palm kering, yang ditulisidengan goresan alat tajam dibubuhi dengan bubuk hitam, untuk memberi warna pada goresan tadi. Pada dasarnya, suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai ‘Bahasa Ugi’ dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang dipanggil ‘aksara’ Bugis. Aksara ini telah wujud sejak abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.

            Sejak permulaan abad ke-17, waktu agama Islam dan kesusasteraan Islam mulai mempergaruhi Sulawesi Selatan, maka kesuasteraan Bugis dan Makssar ditulis dalam huruf Arab yang disebut aksara serang.

Huruf yang dipakai dalam naskah-naskah Bugis-Maksassar kuno adalah aksara lontara, sebuah sistem huruf yang asal dari huruf Sanskerta. Katanya dalam abad ke-16, sistem aksara lontara itu disederhanakan oleh Syahbandar kerajaan Goa, Daeng Pamatte.Dalam naskah-naskah sejak zaman itu, sistem Daeng Pamatte itulah yang dipakai.

Aksara Bugis

C. MATA PENCAHARIAN

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mereka menanam padi bergiliran dengan palawija di sawah, dan yang bermukim di daerah pagunungan melakukan cocok tanam dengan system perladangan. Masyarakat bugis juga dikenal sebagai suku bangsa pelaut di Indonesia yang telah mengembangkan suatu kebudayaan maritim sejak beberapa abad lamanya. Perahu-perahu layar yang mereka gunakan dari tipe phinisi dan lambo. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Dalam berlayar, mereka menerapkan hukum niaga yang disebut ade’ alloping bicaranna pabbalu’e.

Sambil berlayar, orang Bugis-Makassar mengembangkan perdagangan ke berbagai tepat di Indonesia. Berbagai jenis binatang laut diperdagangkan . Teripang dan holothurioidea(sejenis binatang laut ditangkap di Kep.Tanibar, Irian Jaya, bahkan sampai ke Australia untuk dijual kepada tengkulak. Melalui tengkulak, binatang laut ini diekspor ke China.

Selain pertanian, penangkapan ikan , pelyaran dan perdagangan, usaha kerajinan rumah tangga merupakan kegiatan orang Bugis-Makassar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Berbagai jenis  kerajinan rumah tangga yang mereka hasilkan antara lain: tenunan sarung sutera dari Mandar dan Wajo, juga tenunan sarung samarinda dari Bulukumba, dll.

D. KESENIAN

1. Alat musik

#Kecapi
Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua dawai, diambil karena penemuannya dari tali layar perahu. Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun.

#Gendang
Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundar seperti rebana.

#Suling
Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:

  • Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.
  • Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan dimainkan bersama penyanyi
  • Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris) atau acara penjemputan tamu.

2. Seni Tari

  • Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
  • Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran dan kehormatan.
  • Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan perempuan-perempuan Bugis.
  • Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabari (waria), namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.
  • Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa’, tari Pa’galung, dan tari Pabbatte.

     

3.Permainan
Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis antara lain: Mallogo, Mappadendang,  Ma’gasing, Mattoajang (ayunan), getong-getong, Marraga, Mappasajang, Malonggak

                    baju adat                                                senjata

                                       

E. SISTEM KEKERABATAN

Dalam sistem perkawinan adat Bugis-Makassar terdapat perkawinan ideal:

  1. Assialang maola (passialleng baji’na)

Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu, baik dari pihak ayah maupun ibu.

  1. Assialanna memang (passiallenna)

ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua, baik dari pihak ayah maupun ibu.

  1. Ripaddeppe’ abelae (nipakambani bellaya)

ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga, baik dari pihak ayah maupun ibu atau masih mempunyai hubungan keluarga.

            Meskipun perkawinan tersebut dianggap ideal, tetap saja tidak diwajibkan. Sehingga banyak pemuda yang menikah dengan gadis-gadis yang bukan sepupunya. Adapun perkawinan – perkawinan yang dilarang dan dianggap sumbang (salimara’):

  1. perkawinan antara anak dengan ibu / ayah
  2. perkawinan antara saudara sekandung
  3. perkawinan antara menantu dan mertua
  4. perkawinan antara paman / bibi dengan kemenakan
  5. perkawinan antara kakek / nenek dengan cucu

Tahap – tahap dalam perkawinan secara adat :

  1. Mappuce-puce (akuisissing)

ialah kunjungan keluarga si laki-laki ke calon mempelai perempuan untuk memasikan  apakah lamaran di terima atau tidak

 2. Massuro (assuro)

Ialah kunjungan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan untuk membicarakan waktu pernikahan,jenis sunrang atau mas kawin,balanja atau belanja perkawinan penyelanggaran pesta dan sebagainya

         3. Madduppa (ammuttuli)

Ialah kegiatan yang dilakukan setelah tercapainya kesepakatan antar kedua bilah pihak untuk memberi tahu kepada semua kaum kerabat mengenai perkawinan yang akan datang.

Hari pernikahan dimulai dengan mappaendre’ balanja (appanai’ leko), ialah prosesi dari mempelai laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabat pria-wanita, tua-muda, dengan membawa macam-macam makanan, pakaian wanita, dan mas-kawin. Sampai di rumah mempelai wanita langsung diadakan upacara pernikahan,dilanjutkan dengan pesta perkawinan atau aggaukang (pa’gaukang). Pada pesta itu biasa para tamu memberikan kado/passolo’.

             Beberapa hari setelah pernikahan para pengantin baru mendatangi keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai wanita untuk bersilaturahmi dengan memberikan sesuatu yang biasanya sarung sebagai simbol perkenalan terhadap keluarga baru. Setelah itu,baru kedua mempelai menempati rumah mereka sendiri yang disebut nalaonani alena (naentengammi kalenna).

            Ada pula perkawinan yang tidak dilakukan menurut adat (silariang), yaitu si laki-laki membawa lari si gadis. Kawin lari semacam ini terjadi biasa karena pinangan dari pihak laki-laki ditolak atau karena belanja perkawinan (sundrang) yang ditentukan oleh keluarga si gadis terlalu tinggi. Para kerabat si gadis yang mengejar pasangan itu disebut tomasiri’ dan jika mereka berhasil menemukan pasangan tersebut, maka kemungkinan si laki-laki akan dibunuh. Jika ada tanda-tanda kerabat si gadis mau menerima mereka kembali, maka keluarga si laki-laki akan mengambil inisiatif untuk mengunjungi keluarga si gadis. Penerimaan keluarga si gadis untuk berbaikan kembali disebut madecceng atau abbadji.

 

F. SISTEM POLITIK/KEMASYARAKATAN

          Orang Bugis-Makassar lebih banyak mendiami Kabupaten Maros dan Kab. Pangkajene. Desa-desa di kabupaten tersebut merupakan kesatuan-kesatuan administrative, gabungan-gabungan sejumlah kampong lama, yang disebut desa-desa gaya baru. Sebuah kampong biasanya terdiri atas sejumlah keluarga yang mendiami  antara 10-20 buah rumah.  Rumah-rumah itu biasanya terletak berderet menghadap kea rah barat atau selatan. Apabila ada sungai, diusahakan membangun rumah membelakangi sungai. Pusat kampong lama ditandai dengan sebuah pohon beringin besar yang dianggap sebagai tempat keramat(possi tana).

            Sebuah kampong lama dipimpin oleh seorang kepala kampung yang biasanya disebut matowa, jannang, lompo’, toddo’. Kepala kampung dibantu oleh sariang dan parennung. Gabungan kampung dalam struktur asli disebut wanua, pa’rasangan, atau bori’. Pemimpin wanua oleh orang bugis dinamakan arung palili’ atau sullewatang. Orang Makassar  menyebutnya gallarang atau karaeng. Dalam struktur pemerintahan sekarang sama dengan kecamatan

            Pada zaman dahulu, sistem politik dan pemerintahan di Sulawesi Selatan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat  Bugis Makassar adalah berbentuk kerajaan. Kerajaan yang pernah ada di Sulawesi selatan antara lain kerajaan Gowa, Bone, dan Soppeng.

Pada permulaan abad ke-20, seiring dengan masuknya pengaruh Islam, lapisan ata mulai hilang karena desakan agama, begitu juga anakarung, atau tomaradeka. Gelar anakarung seperti karaenta, puatta, andi, dan daeng.  Meskipun dalam masyarakat Bugis-Makassar masih banyak yang menggunakan gelar tersebut, tetapisudah tidak mempunyai arti lagi karena sudah digantikan oleh tinggi rendahnya pangkat dalam sistem birokrasi  kepegawaian dan pendidikan.

Stratifikasi Sosial Lama

H J Friedericy pernah menulis sebuah disertasi di mana ia menggambarkan pelapisan masyarakat orang Bugis-Makassar dari zaman sebelum pemerintah kolonial Belanda menguasai langsung daerah Sulawesi Selatan.

Salah satu sumber yang dipakai untuk melakukan rekonstruksinya adalah buku kesusasteraan Bugis-Makassar ash, La Galigo.

Menurut Friedericy dulu ada tiga lapisan pokok, yaitu: anakarung, lapisan orang merdeka yang merupakan sebagian besar dari rakyat Sulawesi Selatan; dan ata, lapisan orang budak, yaitu orang yang ditangkap dalam peperangan, orang yang tidak dapat membayar hutang, atau orang yang melanggar pantangan adat.

 

G. PENDIDIKAN

          Sampai tahun 1965, karena keadaan kekacauan terus-menerus sejak zaman Jepang, zaman revolusi, dan zaman pemberontakan Kahar Muzakkar, maka perkembangan pendidikan di Sulawesi Selatan amat terbelakang dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Walaupun demikian, di kota-kota usaha memajukan pendidikan berjalan juga dan sesudah pemulihan keadaan kembali aman, maka di samping rehabilitasi dalam sector-sektor ekonomi, sarana dan kehidupan kemasyarakatan pada umumnya, usaha dari lapangan pendidikan mendapat perhatian yang khusus. Di samping sekolah umum dan swasta, adapula sekolah agama yang banyak diasuh oleh yayasan pendidikan swasta dari organisasi seperti Muhammadiyah, dan DDI.

 

 

KEBUDAYAAN  BALI

A. SISTEM RELIGI

          Sebagian besar dari masyarakat Bali beragama Hindu-Bali, tetapi ada pula segolongan kecil masyarakat Bali yang menganut agama Islam, Kristen, Katolik.

            Orang yang beragama Hindu percaya akan adanya satu Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti. Kekuasaan Trimurti mempunyai tiga wujud atau manifestasi sebagai berikut:

v  Wujud Brahmana, yang artinya mencipatakan;

v  Wujud Wisnu, yang artinya melindungi serta memelihara;

v  Wujud Siwa, yang artinya melebur segala yang ada.

Masyarakat Bali percaya pada banyak dewa dan roh. Kedudukan dewa dan roh tersebut lebih rendah daripada Trimurti. Dewa dan roh dihormati dalam berbagai upacara bersahaja. Agama Hindu menganggap penting konsepsi roh abadi (arman), adanya buah dari setiap perbuatan (karma pala), dan kebebasan jiwa dari lingkaran kembali (moksa) yang seluruhnya termaktub dalam kitab suci yang bernama Weda. Disamping wade, ada pula kitab-kitab lain dalam bentuk lontar berhuruf Bali dan berbahasa Jawa Kuno. Di antara kitab-kitab tersebut ada pula yang bahasanya merupakan campuran antara bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sansekerta. Kitab-kitab tersebut mengandung tuntunan pelaksanaan agama, kupulan mantra-mantra, ketarangan berbagai undang-undang, serta prosa dan puisi dari epos Hindu Mahabarata dan Ramayana.

Tempat beribadah agama Hindu di Bali berupa kompleks bangunanbangunan suci yang sifatnya berbeda. Bangunan-bangunan tersebut antara lain:

v  Ada yang sifatnya umum, artinya dapat digunakan untuk semua golongan, seperti pura Besakih;

v  Ada yang berhubungan dengan kelompok sosial setempat, seperti pura desa (kayangan tiga);

v  Ada yang berhubungan dengan organisasi dan kumpulan-kumpulan khusus seperti subak dan seka serta kumpulan tari atau semacam sanggar tari;

v  Ada yang merupakan tempat pemujaan leluhur dari klan-klan besar.

Adapun tempat pemujaan leluhur dari klan kecil serta keluarga luas adalah tempat-tempat sesaji rumah yang disebut sanggah. Di Bali ada beribu-ribu sanggah dan pura, masing-masing dengan hari perayaan berdasarkan sistem penanggalan yang telah ditetapkan. Di Bali dipakai dua macam penaggalan , yaitu penaggalan Hindu-Bali dan penanggalan Jawa-Bali.

Pada umumnya, apabila masyarakat menyelenggarakan upacara keagamaan terutama upacara besar, penentuan penyelesaian upacara itu dilakukan oleh seorang pemimpin agama. Pemimpin agama yang bertugas melaksanakn upacara itu adalah orang yang dilantik menjadi pendeta yang pada umumnya disebud sulingih. Merek juga disebut dengan istilah lain bergantung pada klan atau kasta mereka. Misalnya, penyebutan pedanda untuk pendeta dari kasta brahmana baik beraliran siwa maupun budha, dan penyebutan resi untuk pendeta dari kasta ksatria.

Dari penelitiannya terhadap 4 raja yang berkuasa pada masa Bali Kuna, Semadi Astra (1997:280) menemukan ada 16 orang pemuka agama Siva dan 12 orang pemuka agama Buddha, sebagai berikut.

Pemuka Agama Siva

    Pemuka Agama Buddha

1.

Mpukwing Dharmahanyar

1.

Mpukwing Kutihanyar

2.

Mpukwing Hyang Padang

2.

Mpukwing Canggini

3.

Mpukwing Binor

3.

Mpukwing Bajrasikhara

4.

Mpukwing Mpukwing Lokeswara

4.

Mpukwing Kadhiran

5.

Mpukwing Banyu Garuda

5.

Mpukwing Dharmaryya

6.

Mpukwing Makarun

6.

Mpukwing Waranasi

7.

Mpukwing Antakunyarapada

7.

Mpukwing Barabahung

8.

Mpukwing Udayalaya

8.

Mpukwing Karana

9.

Mpukwing Kanya

9.

Mpukwing Raganagara

10.

Mpukwing Kusumahajika

10.

Mpukwing Purwanagara

11.

Mpukwing Kusumadanta (Puspadanta)

11.

Mpukwing Nalnyja

12.

Mpukwing Kunjarapada

12.

Samgat Mangirengngireng

Wandami

13.

Mpukwing Pasabhan

14.

Mpukwing Sikharadwara

 

 

15.

Mpukwing Hyang karampas

 

 

16.

Samgat Juru Wadwa

 

 

 

Berdasarkan jumlah pemuka agama yang tersebut dalam jabatan pemerintahan empat raja pada zaman Bali Kuna di atas, dapat dinyatakan bahwa pemeluk Agama Hindu lebih banyak dibandingkan dengan agama Buddha.

Mengenai bangunan suci terkait dengan kedua agama di atas, sumber prasasti hanya menyebut beberapa istilah, seperti satra, patapan, hyang, vihara, sima, sala, kaklungan, pendem, kamulan, meru, dan sebagainya. Di antara nama-nama tersebut, wihara jelas merupakan pesanggrah¬an bagi para pendeta Buddha, hyang singkatan dari istilah kahyangan yang berarti tempat suci. Sampai sekarang di Bali tiga buah pura di tiap-¬tiap desa pakraman (desa adat) disebut Kahyangan Tiga, yaitu Pura Desa, Puseh, dan Dalem. Patapan merupakan tempat untuk bertapa. Sima merupakan daerah perdikan yang tugasnya memelihara bangunan suci yang ada di daerah itu. Kamulan rupa-rupanya masih tertinggal menjadi sanggah kamulan di Bali yang sekarang berfungsi sebagai tempat penghormatan roh suci leluhur. Meru merupakan bangunan suci berbentuk atap tumpang terbuat dari ijuk2.

Agama Hindu juga dijadikan sebagai titik sentral (pusat). Agama Hindu melalui sistem atau media bahasa, yakni (1) Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno diterima dan dianut oleh masyarakat Bali. Demikian pula melalui media bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno masyarakat Bali yang telah menganut Agama Hindu memperoleh (2) sistem pengetahuan. Selanjutnya diterapkan (3) sistem sosial dengan sebagian masih mempertahankan sistem prasejarah dan sebagian lagi mengambil alih atau bersumber pada nilai-nilai Agama Hindu. (4) Sistem peralatan hidup dan teknologi merupakan kelanjutan dari masa prasejarah dan berkembang pula pada zaman sejarah dengan mengadopsi nilai Agama Hindu, misalnya didirikan tempat pemujaan, arca-arca dan sebagainya. (5) Sistem mata pencaharian masyarakat Bali yang pada mulanya bertani dan berburu, setelah adanya hubungan dengan China dan India mendapat pengaruh dari kedua kebudayaan tersebut, terutama dalam perdagngan. Dalam perkembangannya di setiap tempat untuk memperoleh mata pencaharian didirikan tempat pemujaan yang kemudian dikenal sistem Subak dengan Pura Ulunsui, Pura Bedugul, dan di pasar dibangun Pura Melanting sebagai tempat memuja Dewi Sri Laksmi.(6) Sistem religi pada masa prasejarah dengan masuk dan diterimanya Agama Hindu, kepercayaan lama dicerahkan dan didominasi oleh ajaran Agama Hindu. Demikian pula (7) sistem kesenian, akar-akar kesenian yang sudah terdapat pada masa prasejarah dikembangkan dengan tema-tema yang terdapat di dalam Agama Hindu dengan tetap menghargai dan mensinergikan budaya sebelumnya. Ketujuh unsur kebudayaan di atas (lingkaran-lingkaran kecil) berada dalam lingkaran besar kebudayaan Bali dan mendapat pencerahan dan diabdikan kembali kepada keagungan Agama Hindu (lingkaran di tengah-tengah), dengan demikian terjadi jalinan yang sangat halus sehingga sulit membedakan antara Agama Hindu dan kebudayaan Bali.
Persamaan antara religi prasejarah Bali dengan Agama Hindu dapat dilihat beberapa di antaranya melalui perbandingan berikut .

 

 

 

 

 

                        Religi Prasejarah

Agama Hindu

1.

 

2.

 

3.

 

4.

 5. 

 

 

6.

 

7. 

 

8. 

 

 

9. 

 

10. 

 

Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Embang/Sang Hyang Tuduh.
 

Dewa yang bersemayam di puncak Gunung Agung disebut To Langkir

Tempat yang dipandang suci adalah gunung, sungai, laut.

Percaya terhadap kekuatan alam yang disebut Hyang.

Percaya terhadap roh suci leluhur dengan perwatan jenasah dan roh suci dianggap bersemayam di puncak-puncak gunung.

Membuat tiruan gunung berupa punden berundak-undak, menhir dan tahta batu.

Tinggalan situs Gilimanuk ditemukan gigi manusia telah dipanggur.

Tinggalan sikap jenasah pada sarkopagus dalam posisi bayi dalam kandungan menunjukkan adanya kepercayaan akan kelahiran kembali.

Adanya orientasi arah yang dipandang suci yakni utara dan timur.

  
Adanya persembahan dan bekal kubur.

 

.

 

2.

 

3.

 4.

 

5.

 

6.

 

 

7.

 

 

8. 

 

9. 

 

10. 

 

 

 

 

Sebutan untuk Tuhan adalah Sang Hyang Widhi Wasa.

Dewa yang bersemayam di puncak Gunung Agung disebut Bhattara Giripati atau Mahadewa.

Tempat yang dipandang suci adalah gunung, sungai, laut.

Kekuatan alam disebut dengan nama Dewa.

Percaya terhadap roh suci leluhur yang disebut Atma dan Atma yang suci bersemayam di puncak-puncak gunung.

Membuat tiruan kahyangan dan gunung berupa pura, prasada, candi, meru.

Tradisi panggur tersebut berlanjut disebut upacara “mapandes” atau “matatah”, ditemukan dalam tradisi Veda kuno.

Kepercayaan terhadap kelahiran kembali disebut Punarbhava atau Samsara.

Adanya orientasi arah yang dipandang suci yakni utara dan timur yang disebut Uttara dan Purva.

Adanya persembahan dan bekal kubur berupa upakara yajna.

 

       

 

B. SISTEM KEKERABATAN

            Orang Bali dianggap sebagai warga masyarakatsepenuhnya jika sudah menikah. Karena itu, perkawinan sangat penting dalam kehidupan mereka. Menurut adat lama yang dipengaruhi oleh sistem klan dan kasta, orang-orang se-klan dipengaruhi oleh siste klan dan kasta, orang-oranag se-klan (tunggal kawitan, tunggal dadia, tunggal sanggah) setingakat kedudukannya dalam adat, agama dan kasta. Oleh karena itu, orang Bali  berusaha untuk kawin dengan orang-orang yang berada dalam batas klannya atau setidak-tidaknya antara orang-orang yang dianggap sederajat dalam kasta. Perkawinan adat di Bali bersifat endogami klan. Perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali umumnya adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki.

            Dahulu, jika terjadi perkawinan campuran, wanita akan dinyatakan keluar dari dadia. Secara fisik, suami istri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama ke tempat yang jauh dari tempat asalnya. Sekarang, hukum itu tidak pernah dijalankan lagi. Perkawinan campuaran antar-kasta sudah relatif banyak dilaksanakan.

            Tiap-tiap keluarga bati ataupun keluarga luas dalam sebuah desa di Bali harus memelihara hubungan dengan kelompokkekerabatannya yang lebih luas, yaitu klan (tunggal dadia). Struktur tunggal dadia ini berbeda-beda. Di desa-desa dan pegunungan, orang-orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup neolokal, tidak lagi mendirikan tempat pemujaan leluhur di setiap tempat kediamannya. Di desa-desa tanah datar, orang-orang dari tunggal dadia  yang hidup neolokal wajib mendirikan tempat pemujaan tersebut yang disebut kemulan taksu.

            Suatu kuil di tingkat dadia merayakan upacara-upcara sekitar lingkungan  hidup dari semua warganya. Suatu kuil tingkat dadia mempersatukan dan mengintensifkan rasa solidaritas anggota-anggota suatu klan kecil. Di samping itu, ada lagi kelompok kerabat yang lebih besar  yang melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah). Mereka memuja kuil leluhur yang sama yang disebut kuil (pura) paibon atau panti. Kelompok kerabat yang demikian disebut klan besar.

C. SISTEM POLITIK

            Di samping kelompok-kelompok kerabat yang ikatannya berdasarkan prinsip keturunan masyarakat Bali, adapula bentuk kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan kesatuan wilayah, yaitu desa. Kesatuan-kesatuan sosial seperti itu merupakan kesatuan desa yang diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara-upacara keagamaan yang keramat. Umunya, ada perbedaan  antara desa-desa adat . di pegunungan biasanya lebih kecil dan anggotanya terbatas pada orang asli yang lahir di desa itu. Sesudah kawin, orang itu langsung menjadi warga desa adat (kraat desa). Mereka mendapat tempat duduk yang khas di balai desa yang disebut bale agung, serta berhak mengikuti rapat-rapat desa yang diadakan teratur pada hari-hari yang tetap.

            Di Bali terdapat diferensiasi kesatuan-kesatuan adat yang disebut Banjar. Sifat keanggotaan banjar tidak tertutup dan tidak terbatas pada orang-orang asli yang lahir di dalam banjar. Jika ada orang dari wilayah lain atau lahir di banjar lain yang tinggal di sekitar wilayah banjar yang bersangkutan dan mau menjadi warga banjar tersebut tetap diperbolehkan.

            Pusat suatu banjar adalah bale banjar, tempat para warga banjar bertemu dan mengadakan rapat pada hari yang tetap. Banjar dikepalaioleh seorang kepala yang disebut klian banjar. Karena dianggap ahli dalam adat banjar, klian banjar juga bertugas memecahkan soal-soal yang menyangkut hukum adat tanah. Selain itu, ia juga mengurusi hal-hal tentang pemerintahan seperti:

v  Subak, yaitu suatu badan pengatur air sawah. Di samping itu, suabak juga suatu badan hukum adat yang otonom. Subak sekaligus suatu badan perencana aktivitas pertanian dan suatu kelompok keagamaan.

v  Seka, yaitu badan yang bergerak dalam lapangan hidup yang khusus. Macam-macam seka antara lain:

– seka permenen: seka baru (perkumpulan tari baris), seka truna (perkumpulan para pemuda),   seka daha (perkumpulan gadis-gadis).

– seka sementara: seka semula (perkumpuln menanam), seka manyi (perkumpulan menuai), seka gong (perkumpulan gamelan).

D. BAHASA

          Agama Hindu masuk ke Bali pada mulanya melalui media bahasa Sanskerta kemudian sejak pemerintahan Mahendradattagunapriyadharmapatni (permaisuri raja Dharmodayana Varmedeva), maka bahasa Jawa Kuno menggantikan media berbagai susastra Hindu dan hal ini tampak pengaruhnya terhadap bahasa Bali dewasa ini. Dalam mantra stuti masih menggunakan bahasa Sanskerta4.Tentang susastra Jawa Kuno atau Kawi yang mendominasi susastra Hindu di Bali, baik dalam genre parwa, kakawin, dan kidung telah dikaji secara komprehensif oleh P.J. Zoetmulder dalam karya monumentalnya Kalangwan.

            Di lain pihak, selain dominasi susastra Jawa Kuno seperti tersebut di atas, I Made Suastika menyatakan bahwa pada abad ke-18 (zaman Kerajaan Klungkung) karya sastra Jawa Kuno dan Pertengahan digubah dalam genre baru yang disebut parikan atau gaguritan (1995:30), maka sekitar abad  ke-17 sampai dengan abad ke-19 teks-teks baik berbentuk kidung atau gaguritan sudah sangat populer di antaranya karya sastra berupa Kidung Panji Amalatrasmi, Gaguritan Bhimasvarga, Kidung Bagus Diarsa dan lain-lain disusun oleh para sastrawan pada zaman tersebut yang memberi pemahaman tentang Agama Hindu bagi masyarakat Bali. Aktivitas memahami susastra Jawa Kuno hingga saat ini masih dilestarikan melalui Dharmagita atau Pesantian-Pesantian yang ada hampir di seluruh Desa Pakraman di Bali. Di Bali yang dimaksud dengan susastra Bali tidak lain adalah sebagian besar susastra Jawa Kuno dan sebagian kecil susastra berbahasa Bali, menunjukkan bahwa budaya Bali menyerap budaya Jawa Kuno yang sumbernya adalah budaya India.

E. SISTEM KESENIAN

            Sistem ini (kesenian Bali) walaupun tidak bisa dirunut asalnya secara pasti namun adanya pertunjukkan wayang kulit yang oleh Brandes disebut sebagai kesenian asli Indonesia, di India selatan kita jumpai seni yang disebut Kathakali yang mirip dengan wayang kulit yang dipentaskan baik malam maupun siang hari (seperti wayang lemah), demikian pula pementasan cerita Ramayana, dan Bhimakumara seperti disebutkan dalam prasasti Jaha di Jawa Tengah bersumber kepada Ramayana dan Mahabharata yang di India disebut Ramalila dan Mahabharatalila atau Krishnalila. Beberapa tari lepas di Bali tampak seperti Bharatnatyam di India. Dalam seni arsitektur, struktur bangunan yang disebut Meru dapat dijumpai di Nepal dan di India utara.

            Sistem kesenian di Bali di bagi atas:

v  Tarian

Tari-tarian yang ada di daerah Bali di antaranya tari legong dan tari kecak. Tari legong merupakan tarian yang berlatar belakang kisah cinta raja lasem, ditarikan secara dinamis dan memikat hati. Tari kecak merupakan sebuah tari yang berdasarkan cerita dari kitab ramayana yang mengisahkan tentang bala tentara monyet Hanuman dan Sugriwa.

v  Rumah adat

Gapura candi bentar merupakan pntu masuk istana raja yang merupakan rumah adat di Bali. Balai begong adalah tempat istirahat raja beserta keluarga dan balai wanikan adalah tempat adu ayam atau pagelaran kesenian. Kori agung adalah pintu masuk pada waktu upacara besar dan kori babetelan merupakan pintu untuk keperluan keluarga. Gapura candi Bentar dibuat dari batu merah dengan ukiran-ukian dari batu cadas.

v  Pakaian adat

Pakaian adat bagi pria berupa ikat kepala(destar) kain songket saput, sebilah keris  terselip pada pinggang bagian belakang. Kaum wanitanya memakai dua helai kain songket, stagen songket(meprada) dan selendang(senteng). Ia juga memakai hiasan bunga emas dan bunga kamboja di atas kepala. Perhiasan yang dipakainya adalah subang, kalung dan gelang.

F. MATA PENCAHARIAN

            Mata pencaharian masyarakat Bali meliputi:

  1. Bercocok tanam

Mata pencaharian pokok berupa bertani. Selain menanam padi, mereka juga menyelingi dengan menanam tanaman palawija.

  1. Peternakan

Beternak juga merupakan usaha yang penting dalam masyarakat pedesaan di Bali. Binatang peliharaan utama berupa babi dan sapi.

  1. Perikanan

Perikanan darat boleh dikatakan pekerjaan sambilan di sawah. Sedangkan perikanan laut terdapat di sepanjang pantai.

  1. Kerajinan tangan

Di Bali terdapat pula  cukup banyak industri dan kerajinan rumah tangga usaha perseorangan, usaha setengah besar, yang meliputi kerajinan pembuatan benda-benda ayaman, patung, kain tenun, benda emas, perak dan besi, dan lain-lain.

                       

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 22, 2012 by .
%d bloggers like this: